#11
Jejak kaki
menyusuri hempasan angin laut di pinggiran. Hilang ingatan penuh semu. Tidak
tahu arti melangkah. Semakin mencari arti dari melangkah, tentu akan indah pada
waktunya. Tapi baginya.. cukup berat untuk menjadi kenyataan.
"Syira san
"
Pikirannya terbesit kata Rio. Ya, itu dia
Rio. Anak laki laki yang membuatnya patah hati. Kenapa di waktu yang tidak
tepat ini harus memanggil namanya.
"Lombanya
akan segera dimulai. Ayo !"
Tangannya menarik tangan perempuan itu. Langsung
berlari seperti tidak ada beban di hati. Mengikuti langkah dalam setiap detik
menuju ke halaman. Tenguk lehernya, rambut yang terhembus oleh angin, nafas
yang tidak beraturan. Ini adalah yang terakhir ia bisa menatapnya dengan
perasaan sedih. Bukan. Rasa yang tidak ia ketahui. Mungkin, sudah tidak ada
harapan lagi untuk menyukainya. Tapi, Syira ingin mengakhirinya dengan damai
yaitu tersenyum bersamanya.
Perlombaan akan
di mulai. Semua anggota sudah bersiap di halaman penginapan. Awal lomba,
kelompok Syira sudah kalah begitupun lomba kedua dan ketiga. Hilang semangat
untuk memenangkan lomba ini. Udara panas ini membuat seluruh tubuh berkeringat,
lelah sudah. Teman teman yang lain tersenyum bahagia menikmati suasana di musim
panas. Syira ingin menyemangati anggotanya untuk tetap optimis, tapi karena…
Tidak! Syira bangkit dan berlari mengambil sesuatu.
“Yossh. Syira akan memberikan hadiah spesial jika kita menang di babak
terakhir ini. Jadi, Semangat sampai akhir!”
Semua begitu terkejut. Namun, begitu
Syira memberikan selembar kertas, terbentuklah sebuah senyum bulan.
Akhirnya kelompok
mereka menang. Mereka bersorak gembira. Semuanya terlihat tertawa melihat
mereka yang begitu heboh. Padahal hanya memenangkan sekali lomba, tapi begitu
berlebihan. Mereka tidak peduli. Mereka tiba tiba berlari kepantai melepaskan
semua beban dalam dirinya dengan merayakan kemenangannya. Hati yang marah,
sedih, takut, dan cinta bercampur menjadi suatu kenangan yang tidak akan
terlupakan. Sulit ataupun mudah, bisa dilewati oleh Alsyira. Sebuah pengalaman yang membentuk karakter seorang Alsyira. Suatu saat dia akan menjadi wanita
yang baik dan kuat seperti ibunya.
Matahari mulai
terbenam, kami dan semuanya berfoto dengan berlatar belakang pantai dan
matahari terbenam. Semuanya bersiap dan pada hitungan ketiga mereka mengatakan “Sushi”. YAP, keinginanku terkabul. Aku mendapatkan sebuah kenangan yang
menyenangkan bersama teman teman dan juga guru guru di sini. Aku merasa senang,
di atas senangnya itu adalah perasaan tulus dariku. Namun, esok adalah
dimana hari yang tidak ingin aku temui. Masalah mulai menghampiriku, aku belum
siap untuk menangis. Aku ingin seperti sekarang ini.
“Kamu kenapa
Syira san? Kenapa kamu tampak murung?”
“Aku ingin seperti ini. Tidak mau berganti ke besok. Apa yang harus
aku lakukan?”saat berbalik kebelakang, ternyata Rio.
“Syira, terkadang akupun juga berpikir sepertimu. Hari esok adalah
hari yang menyebalkan. aku ingin setiap hari bermain dengan temanku. Tapi, aku tidak bisa. Aku harus
menghadapi masa depan dengan penuh persiapan. Bukankah kita hidup adalah untuk
mencari arti dari hidup. Kita mendapat tantangan, masalah, dan terjatuh itu
adalah proses yang nanti akan terbiasa dalam diri kita untuk terus hidup”
“Rio..”
Tiba tiba Sakura ikut dalam topik itu..
“Iya, benar itu. Kalau setiap hari senang terus, sepertinya hidupmu
sangat membosankan Syira chan hehe”
“Hari dimana nantinya
akan penuh masalah, masalah dan kehidupan indah ”


Komentar
Posting Komentar
Silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai topik pembahasan...