Pria Khayalan 1



Hai kamu. Apakah benar itu kamu?
Iya Ay. Kenapa?
Apa kamu nyata?
… Aku ----- Aysha.
Kring kring.. Matahari tiba tanpa diundang. Bulan tenggelam tanpa ada yang menjatuhkan. Air jatuh tanpa ada kesedihan. Aku disini sedang menatap langit. Menunggu keberadaan seseorang yang akan datang suatu saat. Tapi ntah itu nyata atau khayalan. Apakah di masa depan aku bisa bertemu dengannya?
“Namaku Aysha Yuki. Biasanya orang memanggilku Yuki. Orang selalu berkata aku dari jepang, tapi aku seperti kalian lahir di Indonesia. Salam kenal.”
Yuki adalah seorang yang pemalu, cuek dan dingin. Sehingga ketika temannya ingin mengajaknya kekantin, dia menolak. Ia lebih baik sendirian daripada dengan teman temannya karena… tidak ingin menyakiti mereka dengan perkataannya. Seperti kutukan. Jika dia berbicara kepada orang lain, membuat mereka akan menjauhinya. Takut. Tapi harus melakukan apa tanpa menyakitinya. Sifatnya sudah ada sejak masih di bangku SD. Hingga sekarang pun belum berubah kecuali orang terdekatnya.
  Perkuliahan berakhir. Yuki naik mobil dengan supirnya yang bernama Daniel. Dari namanya, sosok pria itu pastinya tampan dan muda. Dia adalah anak dari pembantu dirumahnya. Dari kecil Yuki dan Daniel sudah saling kenal, sehingga ia merasa nyaman jika mengobrol dengannya. Bisa di bilang sudah di anggap kakak kandung. Kakak yang pengertian, penyanyang dan sabar. Yuki adalah anak tunggal dari keluarga yang lumayan kaya. Ayahnya memiliki bisnis restoran di berbagai cabang, sedangkan ibunya sebagai ibu rumah tangga namun memiliki usaha hidroponik yang dijalankan bersama adiknya.
“Tadaima.”
“Okaeri. Yuki bisa bantu ibu sebentar. Masakan ibu gosong lagi” tertawa ringan
“Ibu.. aku kan sudah bilang. Biar Yuki yang masak. Ibu istirahat saja.”
Segera Yuki pergi ke kamarnya untuk ganti baju dan membuatkan makan malam.
Suasana malam begitu ramai. Begitu banyak percakapan diantara mereka. Tapi Yuki kurang begitu suka, namun tetap menghargainya. Setelah makan, ia mengerjakan tugas, belajar, istirahat dengan mendengarkan musik dan tidur.
“Ay, bagaimana kuliahnya? Sudah punya teman?”
“Hmm belum. Aku malu dan takut. Aku masih memikirkan kutukan ini” resah hatinya
“Tidak perlu takut. Kamu bisa kok. Atau nanti biar aku yang bilang ke mereka”
“Nggak perlu. Hmm besok aku coba.”dengan wajah berseri
“Nah gitu dong. Yasudah tidur gih. Oyasumi” tersenyum
“Oyasumi juga, Kazune” 

“Apakah kamu nyata atau khayalan”

 

Next>>>



Komentar