TULISAN MASA LALU 2


# 2


          Besok adalah hari yang aku tidak inginkan. Beruntungnya masih hari pertama, jadi tidak perlu bawa perlengkapan banyak. Ku berpikir kenapa harus melakukan kegiatan ini yang padahal ada hal yang lebih bermanfaat, seperti membuat sesuatu sesuai minatnya dan mempresentasikan hasil karyanya di depan kelas. Itukan ada hasilnya dan membanggakan buat sekolah maupun dari anak tersebut. Ahh sudahlah, akupun juga ga bisa apa apa dengan sistem ini. Masih memikirkan masa depan aja sudah sulit huftt.

          “Sayang turun. Sarapan dulu biar ga kelaperan nanti”

          “Iya bun. Ra lagi pakai kaos kaki”jawabnya

          Keira berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan. Di meja makan sudah di siapkan sereal dan susu putih untuk sarapannya. Ayah yang sedang membantu ibu di dapur. Jam sudah menunjukan angka 5, setengah jam lagi MOS dimulai. Untungnya jarak sekolah tidak terlalu jauh, sehingga 20 menit dari rumahnya sudah sampai. Selesai makan, ia ambil tas dan salam ke orang tuanya.

“Hati hati ya sayang. Semangat MOS nya kiss kiss”bunda mencium keningnya begitu juga ayahnya.

“Berangkat dulu ya. Assalamu’alaikum bun yah”

          “Wa’alaikum salam dahh”

          Keira berjalan menuju sekolah, tapi tidak bersama Shifa karena sudah pergi duluan. Langit masih berwarna abu abu dan cahaya bulan menyinari perjalanannya. Hembusan angin muncul menyentuh tubuhnya membuat merinding kedinginan. Tapi harus bertahan hingga sampai kesekolah. Sepanjang jalan, ia bertemu dengan beberapa murid baru. Tapi hanya dirinya pergi tidak bersama teman. Merasa tidak percaya diri, takut, malu, ingin pulang. Tidak sengaja melihat kedepan, ada murid baru, cowok sendirian. Hufft untunglah bukan hanya dia seorang. 


          Sampai di depan gerbang sekolah. Murid baru di suruh baris ke tempat barisan yang masih kosong. Menunggu hingga jam 05.50 diberi tambahan waktu 20 menit. Jika ada yang masih terlambat, dibedakan barisannya.

          Setelah diberikan informasi dan arahan, aku ternyata dikelompok kuning dan Shifa dikelompok merah. Huft ga bareng deh kelompoknya. Sampai di kelas aku duduk dengan teman satu SMP, tapi kami tidak terlalu dekat sehingga suasana canggung dan tidak ada yang memulai berbincang. Sangat membosankan, belum ada kakak panitia yang menjadi pembimbing kami. 

          Aku adalah seorang introvert, seseorang yang tidak bisa memulai percakapan, suka menyendiri, pemalu, ceroboh dan kaku. Tapi jika sudah punya teman dekat seperti sahabatku, aku pasti jauh dari kata malu yang pasti malu-maluin hahaha. Untuk pengenalan perlu dua tahun lebih dikarenakan sifat yang berhati hati dan serius. Aku ngga ingin memiliki teman yang hanya untuk dimanfaatkan, bersenang senang semata. Trauma semasa kecil dulu. Balik lagi ke MOS

          Tibalah kating masuk ke dalam kelas. Memperkenalkan diri, memberikan informasi perihal sekolah, panitia MOS dan melakukan games kecil kecilan.

          “DORR!”ditendang pintu kelas

          “MANA 3S nya!!”bentak salah satu panitia

          Salam Sapa Senyum”semua murid tersenyum

“Woii siapa bilang kalian boleh berisik dikelas. Hei.. dengar tidak”gertak panitia

“Kamu sebagai pembimbingnya, kenapa kelas jadi berisik?!”

“Kami sedang melakukan games ka sembari menunggu guru datang”ucap kating

“Main kata mu! Sekarang belum ada kegiatan games dikelas”pembimbing kami meminta maaf kepadanya namun mereka tetap memarahi

          Atas insiden itu, mereka menjadi takut. Tiba tiba datang seorang panitia yang membawa sebuah kamera. Dia meminta izin untuk memfoto murid baru sebagai dokumentasi. Kakak itu mulai memfoto murid perbaris. Saat gilirannya, Keira tampak senyum manis di depannya, agar fotonya bagus. Ada ada saja

          Hari kedua MOS. Semua murid membawa perlengkapan banyak dan memakai aksesoris layaknya orang gila. Keira sangat membencinya. Tapi harus bagaimana lagi, sudah terjadi. Saat berbaris, ada seorang panitia menghampirinya dan berkata

          “Kamu Keira?”tanyanya

          “Iya benar Ka”

          “Kamu murid baru terdisiplin dan rapi”senyumnya

          “Oh.. terima kasih ka”tampak canggung sekaligus senyum ramah

          Berjalan pelan memasuki kelas dan duduk. Teman sebangkuku mulai berbincang denganku. Teman yang dibelakang juga nimbrung mengajak berkenalan. Bel berbunyi, pembimbing masuk. Mereka memberi tahu lagu MOS, nama-nama panitia yang wajib dihafal dan nanti meminta tanda tangan.

          “DOR!”





Komentar