TULISAN MASA LALU 5

 

# 5

 


Hari pertama sekolah. Berjalan perlahan sambil mengayunkan tangan menelusuri sekitar sekolah. Menikmati pemandangan yang berada di depan matanya. Terucap dalam hatinya “Tenang”. Tak lama, di sampingnya ada seorang pria berkata “Bahagia” sambil menutup mata. Keira agak terkejut dan berpikir sejenak, Bahagia (?). Bel masuk pun berbunyi. Ia segera berlari untuk masuk ke kelas.

Sampai di kelas, ia mencari kursi yang kosong dan melihat ke belakang.

“Fyuh syukurlah ada bangku kosong di belakang” di letakkanlah tas di bangku sebelah karena tidak ada orang yang menempati.

“Hi, boleh duduk di sebelahmu?” matanya melihat ke suara yang di tuju dan ternyata ia pria yang tadi berkata “Bahagia”.

“Hmm aku mau duduk sendiri” sebenarnya Keira tidak ingin duduk sebelah dengan pria atau lebih baik tidak duduk dengan orang. Karena sifat pemalu dan takut kepada orang lain.

“Baiklah jika itu membuatmu nyaman”dengan tersenyum. Lalu beralih ke kursi tengah.

Gurupun masuk ke kelas dan memperkenalkan diri. Memberikan informasi bahwa beliau adalah wali kelas mereka. Di sambut tepuk tangan oleh murid-murid. Setelah beliau perkenalan, sekarang giliran anak muridnya yang memperkenalkan diri. Di panggillah satu persatu murid dengan menyebutkan nama, asal sekolah, dan cita citanya kelak dewasa nanti. Giliran si pria “bahagia” perkenalan.

“Hi, nama saya Zun Arata. Biasa dipanggil Zun. Asal sekolah SMPN 8 Permata. Cita cita ingin menjadi Programmer. Terima Kasih” tepuk tangan yang lain.

Habis 5 murid selesai, lalu Keira orang terakhir perkenalan.

“Hi, nama saya Keira Asyanan. Asal sekolah SMP Swasta Sakura. Cita cita ingin menjadi Pengusaha. Terima Kasih”

Setelah perkenalan berakhir, Guru Sera memberitahu sistem belajar dan aturan di kelas ini. Hal pertama yang dilakukan mengacak tempat duduk siswanya. Tujuannya agar saling mengenal dan tidak membeda bedakan satu sama yang lain. Keira dalam hati merasa gelisah. Takutnya sebangku dengan siswa yang nakal, tidak menyukainya karna dirinya pendiam. Menghela nafas saja.

Siswa yang di panggil namanya segera mengambil nomor undian di meja bu Sera dan ketempat duduk yang sudah ditentukan. Keira mendapat nomor duduk di 15. Dilihatnya belum ada orang di bangku sebelahnya. Raut muka terlihat bersyukur juga deg degkan. Ketika nama Zun di panggil dan mengambil no bangkunya, ia tersenyum dan melihat kearahnya.

“Sepertinya jodoh tidak akan kemana” tampak senyum mengejek ke wajah Keira.

“Huft, kenapa harus sama pria. Apa salahku Tuhan” dalam hati

Selesai dibagikan no urut kursi, bu Sera berharap siswa siswinya dapat bekerja sama dan belajar dengan rajin untuk meraih mimpinya. Ketua memberikan aba-aba tanda beliau pergi dari kelas “Terima Kasih bu”

Suasana meja mereka tampak canggung. Ia mengambil hpnya di tas dan mendengarkan musik. Sedangkan Zun? seperti ingin dekat dengannya namun ragu sehingga hanya memperhatikan saja dan tersenyum lagi.

 

<<<BACK   NEXT>>>

 

Komentar